Internal maupun eksternal Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) tampaknya kini tak masanya lagi mempersoalkan akhir dari sebuah debat lama soal “kelahiran (IMM) yang dipertanyakan”. Berdiri tanggal 14 Maret 1964 untuk mengantisipasi kemungkinan dibubarkannya HMI oleh pemerintahan demokrasi terpimpin Bung Karno, atau digagas sejak lama untuk kepentingan kaderisasi Muhammadiyah, tampaknya tak begitu mengundang hirau lagi.
Kalimat “aku beri restu kepada Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah” yang dituliskan Bung Karno di atas selembar buku tulis milik Djazman Alkindi saat pamit dari istana negara (1966) memang begitu debatable (Bung Karno menuliskannya di atas bahu Djazman Alkindi dan kalimat itu pun “didiktekan” olehnya). Sekalipun KH AR Fachruddin mendampingi Djazman Alkindi saat itu, tetapi tak banyak penjelasan yang pernah dapat dipetik dari Ketua PP Muhammadiyah terlama itu. Tetapi jelas bahwa Djazman Alkindi memiliki cerita yang berbeda (semisal yang termuat dalam buku karya Farid Fathoni AF, Solo). Begitulah, bersama Sulastomo (Mantan Ketum PB HMI), Djazman Alkindi memiliki catatan bersama sebagaimana dipaparkannya dalam sebuah forum seminar dan lokakarya di kampus UMS Kartasura tahun 1987 yang lalu.
Apa yang kini menjadi persoalan terpenting yang dibungkus atau masih tetap didiskusikan oleh sejumlah orang terbatas di dalam maupun di luar IMM dan Muhammadiyah ialah, bagaimana menjadi bagian penting dari proses perubahan. Tentu banyak pihak yang mengklaim posisi terpuji dalam proses pelik ini. Tetapi meski begitu penting untuk memberi evaluasi terhadap perbandingan besaran ambisi di satu pihak dan tingkat keberhasilan atau kegagalan di pihak lain, tulisan singkat ini sama sekali tidak merencanakan agenda untuk itu.
Memang selama dibiarkan dengan subjektivisme masing-masing dalam menakar kadar value of expectation berbanding value of capability, kerugian-kerugian besar pasti akan menyusul secara tak terperikan. Tetapi dengan menjadi agenda menggantung tak mungkin berharap berubah menjadi pemicu solidarity maker yang secara organik melandasi pemberontakan atas kenyamanan dengan produk kegagalan zaman. Sulitnya lagi, kegagalan ini tidak bisa dihadapi oleh simbol atau orang-orang yang masih sangat senang dengan simbol.
Mata air yang mengering
Memang semakin penting jika sesuatu kelompok tidak tercatat sebagai ”pembebek” belaka dalam arus globalisasi. Jika sekadar menjadi pasak pembelah jantung kedirian (Riggs: prismatic society) yang menghasilkan kemenduaan yang amat canggung sebagai bentuk kegagalan memahami Islam dan menerapkannya dalam praksis ketauladanan sosial, ekonomi, politik, hukum dan budaya, tentulah IMM sudah lebih tepat disebut sebagai salah satu kuburan massal ide dan cita-cita besar. Pemihakan terhadap dikte imperatif pengendali dunia yang mengasuh agen-agen bengis mereka dalam mekanisme kompradorisasi pada tingkal lokal dan nasional, sudah tidak lagi dianggap penting dipersoalkan. Mohd Natsir tentulah wajib dibayangkan tak perlu bertengkar habis-habisan dengan Bung Karno jika target politik fikhud da’wahnya hanyalah untuk menjadi seorang Menteri dalam kabinet. Itu terlalu dangkal.
Djazman Alkindi, Mohd Amien Rais, Rosyad Sholeh, Yahya A Muhaimin dkk pada awal tahun 80-an sudah demikian tegas meminta Indonesia melakukan referendum menguji pendapat Indonesia atas pembangunan yang waktu itu mereka sebut sebagai perubahan dipaksakan atau dengan istilah yang lebih lunak (perubahan tanpa rencana). Ini bukanlah sebuah dramatisasi atau sikap cengeng. Memang barulah tahun 1985 negara memastikan referendum tidak boleh terjadi di Indonesia dengan pengukuhan konstitusional yang amat mirip dengan tragedi pembatasan berkelompok berdalih kebebasan berkelompok yang justru menjadi salah satu substansi jaminan asasi dalam UUD 1945.
Para ashabiqunal awwalun (generasi awal) IMM ini boleh merasa sedih dan mungkin menertawakan diri sendiri--karena ditakdirkan terlahir pada masa penerapan teori modernisasi yang meniscayakan hegemoni di atas segalanya--sambil menghina terus-menerus kearifan-kearifan lokal yang mungkin berbeda diametral dengan cara pandang Barat yang dipaksakan itu. Agaknya inilah penanda metamorfosis IMM yang merintis perdamaian dengan sekularitas dan kedahyatan liberalisasi meski dengan letupan-letupan berkepanjangan bertema radikalitas di luaran. Selimut generasi pewaris mereka pun semakin tebal. Mimpi pun menandai kepulasan dalam tidur panjang.
Memilih kacamata kuda
Immawan Wahyudi (Yogya) tak perlu menjadi terkenal sebagaimana Zulkabir (Bandung) mengendap ditelan zaman. Tetapi jika ada kesediaan meneliti sejarah IMM, kedua orang ini telah mengisi zamannya dengan sejuta tanya kritis ke dalam dan ke luar (daftar tentu masih bisa diperpanjang dengan menyebut Ali Hardi Kiyai Demak). Sesungguhnya mereka melemparkan selimut ke luar jendela dan segera berhenti tidur pulas sembari menyerukan azan yang nyaring di setiap telinga yang masih belum tuli. Tetapi di lingkungan mereka, dan bahkan di setiap halaman surat-surat organisasi, arus yang kuat ke arah formalisme dan kehausan jabatan serta pengakuan position rank yang diganjar dengan uang sudah tak terehabilitasi lagi. Nafas panjang berakhir di sini.
Bukanlah sebuah dendam lama bersifat pribadi ketika dari Tanwir Muhammadiyah tahun 1995 di Surabaya Mohd Amien Rais menyerukan Soeharto berhenti melanjutkan pengalamannya menjadi Presiden yang segera mendapat sambutan luas karena memang menerima argumen sederhana bahwa Soeharto tidak berbeda dengan Bung Karno yang mengukuhkan dirinya menjadi Presiden seumur hidup setelah terlebih dahulu memagari dirinya dengan berbagai gelar-gelar aneh yang cuma dapat difahami oleh segelintir pecundang di sekitar istana dan kerabatnya.
Dari gairah politik Mohd Amien Rais yang amat mendadak sontak dan berusia singkat telah lahir model partisipasi politik warga IMM dengan pembatasan amat ad hock yang tak segera disadari bahayanya. Seperti gerilyawan yang baru turun gunung di negara yang baru saja menghentikan letupan-letupan senjata yang saling di arahkan ke jantung sesama, adik-adik idiologis Mohd amien Rais serta merta dan seluruhnya menjadi legitimasi bagi tenda-tenda kecil yang memerahkan pekatnya warna darah, tetapi tak segera mawas diri bahwa jantung (cardiac)amat memerlukan asupan energi berbeda untuk menghindari ancaman penyumbatan-penyumbatan (zumud) sirkulasi.
Adik-adik idiologis Mohd Amien Rais bahkan tidak pernah mencatat makna dan peran seniornya dalam perjalanan reformasi, kecuali sekadar perebutan mandat dan legitimasi politik belaka di tengah ketidak-siapan sama sekali. Panorama itu yang kemudian mendorong sakit hati bercampur kecemasan internal Muhammadiyah melahirkan kepompong-kepompong baru yang sangat jauh dari kadar itjihad (nuansa pemikiran). Kakakanlah kecemburuan bagi yang tak mendapat pembagian merata telah melahirkan PMB untuk menghukum PAN, tetapi Dien Syamsuddin ternyata telah menyederhanakannya dengan motif-motif pragmatisme yang seolah tak didesign dalam sebuah pembiaran yang amat rentan konflik.
Di sekitar itu bertaburlah pialang-pialang politik rendahan yang lebih menyukai pengkhianatan ketimbang dakwah dan garis pilihan lain dalam bidang low politics (politik pragmatis). Tak pelak lagi, kerapuhan Muhammadiyah semakin sempurna terbukti dengan berhasilnya para pialang politik rendahan ini membentur-benturkan kepentingan substantif Muhammadiyah dengan selera pragmatis mereka yang disalurkan di arena musiman seperti pemilukada.
Rupanya sebuah pilihan selalu dapat dijatuhkan dengan terlebih dulu merontokkan imam lama dan membangun imam baru dengan karakteristik yang belum pernah dikenal. Keajegan ini masih menyisakan disharmoni dan kerusakan Muhammadiyah yang masih belum pulih, dan ini sebuah kejumudan (keterbelakangan) anti ijtihad (upaya pemikiran).
Nafas panjang IMM
Berapa orang aktivis IMM yang hafal Alquran sambil tak terkendala menjadi imam untuk fardhu kifayah? Berapa orang berbasis pendididikan awal non santri yang pandai berbahasa Arab? Ini pertanyaan-pertanyaan mendasar. Jika ini belum diselesaikan IMM, mereka sudah berbohong kepada diri sendiri sambil tepuk-tepuk dada sebagai intelektual ulama atau ulama intelektual yang akan memerankan diri sebagai kader umat dan kader bangsa. Tak akan bertambah panjang nafas IMM selama ia menghindari belajar tentang Islam sebagai agamanya. Tantangan itu yang harus ditempatkan dalam membangun kultur dan kelembagaan IMM. Fastabiqulkhairat.
Penulis adalah Dosen Sosiologi Politik FISIP UMSU, Koordinator Umum ‘nBASIS
Tidak ada komentar:
Posting Komentar